Pasar Dibuka, Pembiayaan Menguat: Inabuyer 2026 Dorong UMKM Naik Kelas

oleh -30 Dilihat

DEPOKNETWORK.CO – Inabuyer 2026 yang berlangsung pada 5–7 Mei 2026 di Gedung SMESCO Jakarta menjadi momentum penting dalam memperkuat akses pasar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kegiatan ini mempertemukan pelaku UMKM dengan buyer dari kementerian/lembaga, BUMN, sektor swasta, retail modern, hingga mitra internasional melalui skema business matching dan penguatan rantai pasok nasional.

Inabuyer tidak sekadar menjadi ajang pameran produk, tetapi juga wadah strategis untuk membuka peluang kerja sama bisnis yang lebih konkret dan berkelanjutan. Melalui forum ini, UMKM didorong masuk ke dalam ekosistem pengadaan pemerintah dan rantai pasok industri nasional guna meningkatkan kapasitas usaha serta memperluas jangkauan pasar.

Berbagai sektor UMKM turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, mulai dari makanan dan minuman, fesyen, kerajinan, furnitur, hingga produk herbal dan kesehatan. Selain pameran dan business matching, kegiatan juga diisi dengan talkshow, konsultasi bisnis, literasi digital, serta pembahasan mengenai pembiayaan dan pengembangan usaha.

Tenaga Ahli Menteri UMKM Bidang Pengembangan Skema Pembiayaan UMKM, Faisal Anwar, menegaskan bahwa pembukaan akses pasar merupakan fondasi utama dalam pengembangan pembiayaan UMKM.

Menurutnya, pemberian pembiayaan tanpa diikuti kepastian pasar justru dapat menimbulkan persoalan baru bagi pelaku usaha.

“Yang paling penting sebenarnya pasar harus dibuka terlebih dahulu. Kalau pasar sudah ada, maka UMKM akan lebih mudah berkembang dan pembiayaan menjadi lebih sehat,” ujar Faisal saat ditemui di sela kegiatan Inabuyer 2026.

Ia menjelaskan, selama ini banyak program pembiayaan menghadapi tantangan karena pelaku UMKM memperoleh akses kredit, tetapi belum memiliki kepastian permintaan maupun akses pembeli yang berkelanjutan.

“Kalau hanya memberikan kredit tanpa memastikan produknya terserap pasar, risikonya cukup besar. Pembiayaan menjadi kurang efektif, bahkan berpotensi menimbulkan kredit macet,” katanya.

Karena itu, Faisal menilai kegiatan seperti Inabuyer memiliki nilai strategis karena mampu mempertemukan UMKM dengan calon pembeli secara langsung. Dengan adanya kontrak, potensi transaksi, maupun kepastian rantai pasok, lembaga pembiayaan akan lebih percaya diri dalam menyalurkan pembiayaan kepada UMKM.

“Pasar dan pembiayaan harus berjalan bersama. Ketika akses pasar terbuka, maka bank maupun lembaga pembiayaan akan lebih yakin mendukung UMKM karena ada prospek usaha yang jelas,” tambahnya.

Kegiatan Inabuyer 2026 sendiri ditargetkan menghasilkan transaksi dan kerja sama bisnis senilai sedikitnya Rp2,5 triliun, sekaligus memperkuat keterlibatan UMKM dalam berbagai program prioritas nasional. Pemerintah berharap kegiatan ini dapat menjadi instrumen penguatan ekonomi domestik serta mendorong UMKM naik kelas dan semakin kompetitif di pasar nasional maupun global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *