DEPOKNETWORK.CO – Dalam momentum Hari Pahlawan 10 November 2025, Wakil Ketua GEMIRA Jawa Barat, Rizki Apriwijaya, menyerukan pentingnya menumbuhkan kembali semangat kepahlawanan di kalangan generasi muda melalui kolaborasi dan kepedulian sosial. Menurutnya, makna Hari Pahlawan tidak hanya sebatas mengenang jasa para pejuang kemerdekaan, tetapi juga bagaimana generasi penerus bangsa dapat menerjemahkan nilai perjuangan itu ke dalam tindakan nyata di masa kini.
“Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi bagaimana kita sebagai generasi muda menyalakan kembali api perjuangan dalam bentuk kolaborasi, kepedulian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Rizki Apriwijaya, Selasa (11/11/2025)
Rizki menjelaskan, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini sangat berbeda dengan era perjuangan fisik para pahlawan. Jika dahulu para pahlawan berjuang dengan senjata dan pengorbanan jiwa, maka kini perjuangan pemuda diwujudkan melalui karya, solidaritas sosial, serta peran aktif dalam menyelesaikan persoalan bangsa seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, dan disrupsi moral.
“Menjadi pahlawan hari ini artinya berani peduli. Berani melangkah keluar dari zona nyaman dan ikut berkontribusi dalam memecahkan persoalan masyarakat. Kolaborasi menjadi kata kunci agar perjuangan itu berdampak luas,” tegasnya.
Menurut Rizki, semangat gotong royong dan empati sosial merupakan warisan nilai luhur yang sejalan dengan semangat kepahlawanan. Ia menilai, di tengah era digital dan individualisme yang semakin kuat, pemuda perlu mengembalikan semangat kebersamaan dan kesadaran sosial sebagai bentuk modern dari jiwa kepahlawanan.
“Teknologi bisa mendekatkan jarak, tapi juga bisa menjauhkan empati. Karena itu, kepahlawanan masa kini adalah kemampuan untuk tetap memiliki hati yang peka terhadap sesama dan mau turun tangan membantu tanpa pamrih,” ujarnya.
Rizki juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas komunitas dan organisasi kepemudaan dalam menumbuhkan kesadaran sosial. Ia menyebut bahwa perbedaan latar belakang, ideologi, atau pandangan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bersatu dalam tujuan bersama: membangun bangsa.
“Kita boleh berbeda organisasi, tetapi semangat kita harus satu Indonesia. Kolaborasi antar pemuda dari berbagai latar belakang adalah bentuk nyata penerapan nilai persatuan yang dulu diperjuangkan para pahlawan,” katanya.
Dalam pandangan Rizki, semangat kepahlawanan modern juga dapat diwujudkan melalui peran aktif pemuda dalam bidang sosial, pendidikan, dan lingkungan. Ia mendorong agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga penggerak dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
“Pemuda jangan hanya kritis di media sosial, tapi juga hadir di lapangan. Kepedulian sosial itu harus diwujudkan dalam aksi, bukan hanya wacana,” tutur Rizki.
Wakil Ketua GEMIRA Jawa Barat itu menambahkan bahwa nilai-nilai kepahlawanan seharusnya menjadi bagian dari karakter setiap generasi muda Indonesia. Dalam konteks kekinian, kepahlawanan tidak lagi diukur dari keberanian di medan perang, melainkan dari keberanian menjaga moralitas, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.
“Sekarang perjuangan kita bukan melawan penjajah, tapi melawan apatisme dan ketidakpedulian. Pemuda yang berani peduli dan mau berbuat adalah pahlawan zaman ini,” ujarnya penuh semangat.
Menutup pernyataannya, Rizki Apriwijaya menegaskan bahwa Hari Pahlawan harus menjadi refleksi moral bagi seluruh generasi muda Indonesia untuk terus menyalakan semangat perjuangan dalam konteks zaman yang terus berubah.
“Makna pahlawan itu tidak hilang oleh waktu. Selama masih ada yang berjuang untuk kebaikan, maka semangat kepahlawanan akan tetap hidup. Mari kita buktikan, bahwa pemuda hari ini juga bisa menjadi pahlawan bagi bangsanya,” pungkasnya.





