Menteri UMKM Maman: Masalah UMKM bukan Kurang Modal, Tetapi Pasar

oleh -29 Dilihat

DEPOKNETWORK.CO – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menegaskan bahwa akar persoalan pertumbuhan UMKM di Indonesia bukan lagi soal akses pembiayaan, melainkan pasar domestik yang tidak sehat.

Menurut Maman, meski dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR), program pelatihan, dan fasilitas produksi telah meningkat dalam dua dekade terakhir, pertumbuhan UMKM tetap stagnan.

“Problem hari ini bukan di akses produksi atau pembiayaan. Itu sudah naik, sudah di-support pemerintah, bank, kampus, dan swasta. Tapi kenapa pertumbuhan UMKM masih landai? Karena masalahnya ada di pasar,” ujar Maman dikutip dari Antara, Senin (02/03/2026).

Maman memaparkan sejak KUR digulirkan pada 2007, total kredit perbankan mencapai Rp8.149 triliun, dengan kredit UMKM sebesar Rp1.580 triliun atau 19,4 persen, sementara kredit non-UMKM Rp6.569 triliun atau 80,6 persen.

Adapun realisasi penyaluran KUR 2025 mencapai Rp270 triliun dengan 4,58 juta debitur, terdiri atas 2,75 juta debitur baru dan 1,54 juta debitur graduasi.Meski angka penyaluran kredit terus meningkat, Maman menyoroti kondisi pasar domestik yang disebut “kotor”, dipenuhi barang impor murah, termasuk yang masuk secara ilegal.

Maman menjelaskan fenomena under invoicing memperparah keadaan, ketika data ekspor negara mitra jauh lebih tinggi dibanding catatan impor Indonesia.

“Misalkan impor kita tercatat 100, dari China catatan ekspornya 900. Artinya ada 800 barang yang tidak tercatat, membanjiri pasar kita,” tuturnya.

Maman menilai situasi ini bukan sekadar persoalan pendapatan negara, tetapi sudah menjadi problem sosial. Produk UMKM yang seharusnya menopang ekonomi rakyat terdesak oleh banjir barang impor.

“Kita seperti masuk lingkaran setan, saling menyalahkan kementerian atau program KUR. Padahal kuncinya ada di pasar domestik yang harus disterilisasi,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *