Ketika Buku Dibungkam, Ingatan Berbicara: Menyusuri Pameran Homeland in Our Bodies di Taman Ismail Marzuki

oleh -25 Dilihat
oleh

DEPOKNETWORK.CO – Panas siang itu masih terasa menempel di kulit ketika saya memasuki kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu, 15 November 2025. Rerimbun pohon di jalur pejalan kaki memberi teduh sesaat, sementara suara dari bazar buku, diskusi, hingga pemutaran arsip menggema di antara bangunan-bangunan seni yang menjadi pusat Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025. Di tengah hiruk-pikuk itu, arus pengunjung melambat pada satu titik: Galeri S. Sudjojono dan Galeri Emiria Soenassa, ruang pameran Homeland in Our Bodies: Tanah di Dalam Tubuh Kita.

Dari luar, silang kain merah menutupi kaca pintu seolah memberi isyarat bahwa ruang di baliknya tidak bisa dilihat sekilas. Begitu melangkah masuk, atmosfer berubah total. Cahaya temaram, langkah pengunjung yang semakin pelan, dan tatapan yang berhenti lama pada instalasi seni membuat ruangan terasa seperti tempat orang datang untuk mengingat, bukan sekadar melihat.

Di sisi kiri, meja panjang dipagari pita kuning bertuliskan “dilarang melintas”. Di bawah cahaya dingin galeri, buku-buku yang dipajang tampak seperti barang bukti: Sang Alkemis karya Paulo Coelho, Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula karya Yayak Yatmaka, hingga komik Hai, Miiko! yang pernah ditarik peredarannya. Sampul-sampul itu tidak mencolok karena warnanya, melainkan karena keheningan yang memancar—keheningan yang hanya dimiliki oleh sesuatu yang pernah dibungkam.

Di dinding belakangnya, potongan artikel koran ditempel begitu saja. Sebagian memuat laporan pembubaran lapak baca di Malang, sebagian lagi dokumentasi penyitaan buku oleh Satpol PP. Kertas-kertas itu bergoyang pelan setiap kali pintu galeri terbuka, seolah masih membawa napas peristiwa yang mereka rekam.

Tak jauh dari sana, poster besar menampilkan kalimat: Jika buku adalah jendela ilmu, maka pembubaran, penyitaan, dan tindakan subversif karena buku berarti aparat telah menutup jendela tersebut. Banyak pengunjung berhenti lama di depan poster ini—membaca perlahan, mengangguk kecil, seolah sedang merangkai makna masing-masing.

Ruang tengah memberi suasana yang lebih keras. Perisai hitam bertumpu di atas ban dengan coretan cat semprot, dikelilingi batu, pecahan semen, dan serpihan material yang mengingatkan pada medan demonstrasi. Di sisi lain, poster besar tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 lebih dari 130 orang meninggal—dipasang setinggi mata. Warnanya tajam, seperti memaksa siapa pun yang menatap untuk mengingat.

Seorang pengunjung muda berdiri lama di depannya. Tanpa menoleh, ia berbisik, “Ini bikin saya merinding. Terlalu banyak nyawa hilang, tapi rasanya negara nggak belajar apa-apa.”

Di sudut lain, kain hitam bertuliskan “Occupy – Reclaim – Resist – Organize” tergantung di dinding. Di bawahnya menumpuk tas, jaket lapangan, dan koper seperti ruang singgah aktivis yang tak pernah benar-benar menetap.

Menjelang pintu keluar, papan berisi catatan tangan pengunjung menggantung berdampingan dengan poster “Etika Membaca Pasca Soeharto Jadi Pahlawan.” Coretan kecil di papan itu berisi kebingungan, kemarahan, dan kejujuran—membuat banyak pengunjung berhenti sebelum kembali ke keramaian festival.

Pameran yang berlangsung pada 13–16 November 2025 ini bukan sekadar menampilkan arsip, tetapi menghidupkannya kembali. Melalui potongan berita, instalasi performatif, dan benda-benda yang pernah bersentuhan dengan tubuh-tubuh yang melawan, Homeland in Our Bodies mempertemukan pengunjung dengan sejarah yang tidak pernah sepenuhnya selesai.

Di tengah riuh JILF, ruang ini menjadi tempat paling sunyi sebuah pengingat bahwa pengetahuan pernah dibungkam, dan bahwa ingatan selalu menemukan cara untuk berbicara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *