Hari Anak Nasional 2025, Andi Maulana: Perlindungan Anak Harus Jadi Komitmen Bersama, Bukan Sekadar Seremonial

oleh -26 Dilihat
oleh

DEPOKNETWORK.CO – Memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2025 yang jatuh pada Selasa, 23 Juli, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Depok, Andi Maulana, menyerukan pentingnya menjadikan perlindungan anak sebagai komitmen kolektif yang berkelanjutan, bukan hanya rutinitas simbolik tahunan.

Dalam keterangannya, Andi Maulana menegaskan bahwa anak-anak merupakan aset terpenting bangsa yang harus tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung secara spiritual, emosional, maupun intelektual.

“Perlindungan anak tidak boleh hanya menjadi agenda seremonial setiap Hari Anak Nasional. Ini harus jadi komitmen nyata dari keluarga, masyarakat, hingga negara untuk memastikan setiap anak merasa aman, dicintai, dan diberi ruang tumbuh yang layak,” ujar Andi di Kota Depok, Rabu (23/07/2025).

Andi Maulana menyoroti masih banyaknya kasus kekerasan terhadap anak di tingkat lokal maupun nasional yang mengindikasikan lemahnya sistem perlindungan dan kontrol sosial.

Menurutnya, pendidikan berbasis keluarga dan penguatan nilai keislaman menjadi pondasi penting dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia dan terlindungi dari ancaman sosial.

“Pemuda Muhammadiyah mendorong agar ketahanan keluarga dijadikan fokus utama. Anak-anak harus dibesarkan dalam rumah yang penuh kasih sayang, bukan tekanan. Ini adalah bentuk nyata jihad kemanusiaan,” tegasnya.

Andi juga mendorong pemerintah Kota Depok untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mewujudkan Kota Layak Anak, mulai dari regulasi yang berpihak, dukungan psikososial, hingga edukasi publik tentang hak-hak anak.

“Kami mengajak pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, hingga komunitas lokal untuk tidak abai. Tugas kita menjaga masa depan bangsa dengan merawat anak-anak hari ini,” tambahnya.

Sebagai Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah, Andi Maulana juga menggarisbawahi pentingnya menghadirkan ruang aman bagi anak-anak di tengah era digital, di mana tantangan mental, kekerasan daring, dan krisis moral kian kompleks.

“Perlindungan anak hari ini bukan hanya soal fisik, tapi juga perlindungan dari pengaruh negatif digital, budaya kekerasan, dan eksploitasi ekonomi. Ini butuh strategi dan keteladanan dari semua pihak,” tutup Andi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *