Rangkaian Pemuda Pelopor 2026, Kamus Institute Terima Kunjungan Disporyata Kota Depok

oleh -37 Dilihat

DEPOKNETWORK.CO – Rangkaian Seleksi Pemuda Pelopor Tahun 2026 terus berjalan. Salah satunya melalui kunjungan tim dari Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok ke Kantor Kamus Institute, Jalan Situ Asih Pulo, Rangkapan Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Rabu (30/09/2026).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari tahapan Seleksi Pemuda Pelopor Tahun 2026 yang diikuti oleh Direktur Eksekutif Kamus Institute, Andi Maulana, pada bidang kepeloporan Pendidikan. Dalam seleksi tersebut, Andi mengusung program Youth Democracy Academy, sebuah inisiatif yang secara konsisten dilaksanakan untuk memberikan wawasan dan meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya generasi muda, dalam memahami demokrasi, politik, kebijakan publik, serta partisipasi kewargaan.

Dalam kunjungan tersebut, tim Disporyata melakukan pendalaman terhadap gagasan, aktivitas, serta keberlanjutan program kepeloporan yang dijalankan. Diskusi juga membahas bagaimana pendidikan kepemudaan dapat dikembangkan menjadi gerakan yang mampu memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Direktur Eksekutif Kamus Institute, Andi Maulana, mengatakan keikutsertaannya dalam Pemuda Pelopor 2026 merupakan bagian dari ikhtiar untuk memperkenalkan pendidikan demokrasi yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

“Youth Democracy Academy lahir dari kegelisahan bahwa pendidikan demokrasi tidak cukup hanya berbicara mengenai teori atau proses pemilu. Anak muda perlu memahami bagaimana demokrasi bekerja, bagaimana kebijakan publik dibentuk, serta bagaimana mereka dapat terlibat secara kritis dan konstruktif di dalamnya,” ujar Andi.

Menurut Andi, pendidikan menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun generasi muda yang memiliki pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik. Karena itu, Youth Democracy Academy dirancang sebagai ruang belajar yang menggabungkan diskusi, literasi, riset, dan praktik partisipasi.

“Kami ingin menciptakan ruang belajar yang membuat pemuda tidak hanya menjadi penonton dalam proses demokrasi. Mereka harus memiliki pengetahuan, mampu berdiskusi, memahami persoalan di sekitarnya, dan kemudian mengambil peran untuk memberikan solusi,” katanya.

Andi menambahkan, pelaksanaan Youth Democracy Academy selama ini diarahkan kepada pelajar, organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa, komunitas, dan kelompok pemuda lainnya. Program tersebut menggunakan sejumlah pendekatan, mulai dari workshop, forum diskusi, kampanye literasi demokrasi digital hingga kajian terhadap berbagai persoalan kebijakan publik.

“Kepeloporan di bidang pendidikan bagi kami bukan sekadar membuat kegiatan, tetapi bagaimana pengetahuan yang diberikan dapat diteruskan dan melahirkan pemuda yang mampu menjadi penggerak di lingkungannya masing-masing,” jelasnya.

Sementara itu, Dewan Penasehat Kamus Institute, Sulung Hawari, menyampaikan bahwa pendidikan kepemudaan memiliki posisi strategis dalam membangun kualitas generasi muda. Menurutnya, program yang dijalankan Andi melalui Youth Democracy Academy memiliki relevansi dengan kebutuhan pemuda di tengah perkembangan informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat.

“Hari ini pemuda hidup dalam ruang informasi yang sangat terbuka. Karena itu, mereka tidak cukup hanya memiliki akses terhadap informasi, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk memahami, mengkritisi, dan mengolah informasi tersebut menjadi pengetahuan yang bermanfaat,” kata Sulung.

Sulung menilai pendidikan demokrasi perlu ditempatkan sebagai proses yang berkelanjutan. Pemuda perlu diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai persoalan publik sekaligus memahami bahwa demokrasi bukan hanya aktivitas yang berlangsung pada momentum pemilihan umum.

“Pendidikan demokrasi harus hadir dalam keseharian. Anak muda perlu memahami bahwa partisipasi bukan hanya datang ke TPS, tetapi juga menyampaikan gagasan, melakukan pengawasan, terlibat dalam organisasi, berdiskusi tentang kebijakan, dan ikut menyelesaikan persoalan di masyarakat,” ungkapnya.

Sulung berharap proses Seleksi Pemuda Pelopor 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk menilai capaian peserta, tetapi juga menjadi momentum untuk memperluas jejaring dan memperkuat ekosistem kepemudaan di Kota Depok.

Ditempat yang sama, Kepala Bidang Pembinaan Kepemudaan Disporyata Kota Depok, Wahyudin Joko Saputro, mengatakan kunjungan ke Kamus Institute merupakan bagian dari rangkaian Seleksi Pemuda Pelopor Tahun 2026. Menurutnya, proses tersebut diperlukan untuk melihat secara langsung aktivitas dan inovasi yang telah dilakukan oleh para peserta di bidang kepeloporan masing-masing.

“Dalam proses seleksi ini, kami ingin melihat secara langsung apa yang sudah dilakukan oleh peserta, bagaimana inovasinya berjalan, apa manfaatnya bagi masyarakat, serta bagaimana keberlanjutannya. Jadi, bukan hanya gagasan di atas kertas, tetapi ada aktivitas dan dampak yang dapat dilihat,” ujar Wahyudin.

Wahyudin juga mengapresiasi adanya inisiatif kepemudaan yang bergerak di bidang pendidikan, termasuk pendidikan demokrasi dan kebijakan publik. Menurutnya, keberadaan berbagai inisiatif tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan pembinaan pemuda di Kota Depok.

“Kami berharap para pemuda pelopor dapat terus mengembangkan inovasinya dan memberikan manfaat yang lebih luas. Pemerintah tentu membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk membangun kepemudaan, termasuk dengan komunitas dan lembaga yang selama ini sudah bergerak di masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *