Film The Social Network Part II: Aaron Sorkin Bunuh Algoritma Facebook Kini Dampaknya Jauh Lebih Gelap

oleh -19 Dilihat
oleh

Film ini tidak berhasarat mengangkat perebutan startup di kamar asrama Harvard. Sekuel film ini menelusuri sisi gelap Facebook yang dituding memecah belah masyarakat, menyakiti remaja, dan membiakkan misinformasi global.

DEPOKNETWORK.CO – Aaron Sorkin, sang penulis naskah pemenang Oscar dari film The Social Network (2010), kini diberi kepercayaan oleh Sony untuk tidak hanya menulis, tapi juga menyutradarai kelanjutan judul The Social network part II. Langkah ini menandai perjalanan Sorkin dari quiet writer menjadi sosok auteur yang mengambil alih rangkaian kreativitas proyek sensitif ini.

Alih-alih melanjutkan narasi pendirian Facebook di Harvard seperti film pertamanya, Aaron Sorkin mengarahkan narasi sekuel ke ranah kontemporer: efek negatif Facebook terhadap remaja dan penyebaran misinformasi yang berujung kerusakan sosial global, tema sentral dalam seri artikel investigasi The Facebook Files oleh The Wall Street Journal pada tahun 2021 .

Aaron Sorkin sebagaimana dikutip dari sfchronicle.com, secara terbuka menghubungkan munculnya kerusuhan 6 Januari 2021 di Capitol AS dengan peran algoritma Facebook yang mendorong konten ekstrem demi engagement tinggi. Sejauh ini, skenarionya akan membahas dinamika kompleks demokrasi digital, disinformasi bercampur strategi ekonomi.

Sony sendiri tidak bermain aman: walau David Fincher tak kembali ke kursi sutradara, dukungan Sony dengan konsisten menyoroti urgensi film ini sebagai social reckoning terhadap teknologi sosial modern. Sejumlah kritikus menyoroti ini sebagai upgrade moral dari bentuk rekayasa biopik biasa.

Audiens semakin penasaran: akankah Jesse Eisenberg kembali memerankan Mark Zuckerberg? Sorkin dikabarkan tertarik memanggil kembali familiar face—Eisenberg, Andrew Garfield, dari sisi pendiri—walau belum ada konfirmasi resmi. Hal ini menambah ketidakpastian, sekaligus daya tarik potensial sekuel ini.

Selain karakter utama, bagaimana nasib tokoh-tokoh seperti Winklevoss-twins (Armie Hammer) atau Sorkin-favorite Rashida Jones di film pertama? Dengan Sorkin mengambil kendali penuh, mereka punya peluang besar muncul kembali, membentuk continuity emosional antara dua era Facebook.

Menghindari jebakan direct sequel, Sorkin mendaku ini bukan kelanjutan literal, namun interpretasi ulang konteks Facebook modern. Terminologi not a sequel mencerminkan ambisi membedakan struktur, tone, dan strategi naratif dari prekuel-nya.

Dengan mengambil sudut pandang kontemporer, film ini memperluas cakupan sosio-politik: dari isu privasi dan algoritma yang memecah belah komunitas, hingga dampak global di berbagai negara. Media menyebutnya dark follow-up, bahkan sequel Facebook doesn’t want you to see.

Secara estetika, perubahan terbesar adalah perpindahan kursi sutradara ke Sorkin. Ia mengarahkan film berdasarkan naskahnya sendiri, kaleidoskop moralitas dan debat etis. Banyak yang skeptis karena sebelumnya karya sutradara hanya tiga—“Molly’s Game”, “The Trial of the Chicago 7”, “Being the Ricardos”  mengisyaratkan gaya terlalu teatrikal.

Beberapa kritikus menyoroti keterbatasan Sorkin sebagai ilustrator visual. Tanpa sentuhan Fincher yang dikenal detail dan atmosferik, sekuel ini harus menemukan identitas sinematik barunya. Tantangan ini berkaitan erat dengan kualitas produksi dan keluwesan narasi visual .

Potensi keberhasilan film ini sangat tergantung pada keseimbangan antara suara internal (Zuckerberg & rekan) dan suara eksternal (wartawan, korban, ahli media). Sorkin perlu merangkai dialog mendalam yang selama ini jadi kekuatannya—bagi yang menikmati dramatisasi intelektual.

Secara dramaturgi, sekuel ini memiliki struktur dua sisi: pertama, retret emosional dari tokoh utama; kedua, dokumenter investigatif internal platform digital. Jika dieksekusi dengan baik, perpaduan genre ini bisa menciptakan cinematic hybrid antara film firma hukum dan thriller berita.

Dalam perspektif pembelajaran, film ini bisa menjadi laboratorium moralitas digital untuk generasi muda—dengan memperlihatkan bagaimana media digital tidak lagi neutral, melainkan fitur struktur sosial dan politik modern.

Dari aspek industri, kehadiran brand Social Network seperti mendapatkan lisensi untuk kritik sosial berbalut hiburan. Sony mendapat momentum karena materi libarasi dan protes digital saat ini. Bagi investor, ini peluang monetisasi lewat tema yang viral dan dialog publik. Namun, masih ada risiko backlash dari Meta dan pendukungnya. Bila film ini terlalu miring ke kritik, bisa menuai gugatan atau kontroversi legal di Amerika. Strategi hak cipta dan laporan jurnalistik (The Facebook Files) harus diimbangi riset legal serius.

Bagi pencinta film orisinal, ini adalah kesempatan melihat bagaimana teknologi mengubah moral narasi. Fragmentasi sosial dan algoritma itu mirip antagonis baru. Berbeda dengan revisionist bila tema disuarakan lebih dari sekadar dosa masa lalu.

Dengan 8 Oscar nominations dan 3 kemenangan bagi film pertama, harapan sinematik tinggi melekat. Soal pencapaian lagu-skor, sinematografi, editing—elemen teknis lain—harus menyesuaikan tone yang lebih berlatar moralitas publik.

Film  The Social Network Part II berpeluang memiliki potensi besar jadi satire moral optimistis. Ini selama Sorkin mampu menjaga integritas naskah sekaligus mengembangkan bentuk audio-visual. Ini bukan sekadar kelanjutan kisah Zuckerberg, tapi refleksi gelap era digital. Apakah Sorkin bisa mengelola simbolisme digital tanpa menjadi propaganda sebelah. Jika sukses, film ini bisa menjadi blueprint untuk biopik teknologi di masa depan. Ia menyuarakan pertanggungjawaban platform digital. ***

__________________

Slamet Samsoerizal, penulis ragam nonfiksi dan fiksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *